Di pesisir Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, genangan air laut bukan lagi peristiwa yang datang sesekali. Banjir rob telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir dan wilayah muara sungai. Dalam kondisi itu, anak-anak tetap melangkah menuju sekolah, menyusuri jalan yang tergenang air asin dengan seragam basah dan tas yang dijaga agar buku pelajaran tidak rusak. Pemandangan ini bukan sekadar potret ketangguhan, melainkan gambaran nyata bagaimana pendidikan di wilayah pesisir berada dalam tekanan krisis ekologis. Ketika air laut pasang, akses menuju sekolah menjadi sulit dan berisiko. Jalan kayu licin, genangan bercampur lumpur, serta lingkungan yang tidak sehat menjadi tantangan harian bagi anak-anak usia sekolah di Indragiri Hilir. Banjir rob tidak hanya merendam jalan dan halaman rumah, tetapi juga menggerus kualitas pendidikan. Ruang kelas menjadi lembap, fasilitas belajar cepat rusak, dan proses belajar sering terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan antara anak-anak pesisir dan anak-anak di wilayah yang lebih aman dari ancaman banjir rob. Sebagian besar masyarakat Indragiri Hilir menggantungkan hidup pada sektor perkebunan kelapa, perikanan dan aktivitas ekonomi pesisir. Ketika banjir rob datang berulang, penghasilan keluarga terganggu. Tekanan ekonomi ini kerap berdampak pada keberlanjutan pendidikan anak-anak, mulai dari meningkatnya ketidakhadiran di sekolah hingga risiko putus sekolah. Ironisnya, anak-anak pesisir sering dipuji sebagai simbol ketangguhan karena tetap bersekolah di tengah banjir. Namun pujian tersebut kerap menutupi persoalan yang lebih mendasar, belum adanya perlindungan struktural yang menjamin hak anak atas pendidikan yang aman dan layak. Anak-anak seharusnya tidak diuji daya tahannya hanya untuk mendapatkan hak dasar. Apa yang terjadi di Indragiri Hilir sejatinya merepresentasikan kondisi banyak wilayah pesisir Indonesia. Banjir rob bukan sekadar persoalan lokal, melainkan bagian dari krisis ekologis yang diperparah oleh tata kelola ruang dan pembangunan pesisir yang belum berorientasi pada keberlanjutan. Jika pendidikan di wilayah pesisir terus dibiarkan menghadapi krisis tanpa solusi jangka panjang, maka masa depan generasi penerus berada dalam ancaman serius. Sebagai negara maritim, Indonesia tidak boleh membiarkan anak-anak pesisir tumbuh dalam kondisi paling rentan. Melindungi pendidikan mereka berarti memastikan bahwa krisis lingkungan tidak memutus harapan, cita-cita, dan mobilitas sosial generasi penerus bangsa. Kehadiran negara dan pemerintah daerah harus melampaui respons darurat, menuju kebijakan yang menjamin akses pendidikan yang aman, adaptif, dan berkelanjutan di wilayah pesisir. Di tengah banjir rob, anak-anak pesisir Indragiri Hilir tetap melangkah. Namun langkah itu tidak boleh dibiarkan sendirian. Jika air laut terus masuk ke ruang hidup dan ruang belajar tanpa perlindungan nyata, maka yang perlahan tenggelam bukan hanya jalan kampung, tetapi juga tanggung jawab kita terhadap masa depan generasi pesisir Indonesia. Penulis : Zainal Arifin Hussein Dosen Ekonomi UNISI / Pemerhati Lingkungan