UGM dan Kedubes Chile Perkuat Riset Antarktika dan Perubahan Iklim

UGM dan Kedubes Chile Perkuat Riset Antarktika dan Perubahan Iklim

ANALISD.COM - Universitas Gadjah Mada dan Kedutaan Besar (Kedubes) Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, memperkuat komitmen kerja sama di bidang akademik dan riset, terutama riset mengenai antarktika dan perubahan iklim. Hal itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM Dr. Danang Sri Hadmoko bersama Prof. Dr. Mirwan Ushada selaku Direktur Penelitian UGM, serta Ir. Nugroho Imam Setiawan, S.T., M.T., D.Sc., IPM selaku Direktur Tropical–Polar Interconnection Research Group (TPI-RG) dengan Duta Besar (H.E.) Mario Ignacio Artaza Kamis (18/6) lalu di Kampus UGM.

Danang Sri Hadmoko menuturkan, kedua belah pihak menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung dan memfasilitasi komunikasi antara UGM dengan berbagai institusi strategis di Chile. Bahkan UGM akan memperkuat kerja sama yang berjalan dengan beberapa institusi pendidikan tinggi di Chile. Ia menyebutkan salah satu perkembangan yang telah dicapai adalah proses kerja sama dengan Pontificia Universidad Católica de Chile. Kerja sama dengan kampus ini ini diharapkan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas kolaborasi akademik dan penelitian antara Indonesia dan Chile. “Harapannya ini dapat berkembang tidak hanya pada bidang pendidikan dan pertukaran akademik, tetapi juga pada penelitian bersama yang mendukung agenda pembangunan berkelanjutan kedua negara,” kata Danang dalam keterangan yang dikirim Senin (22/6).

Dalam diskusi tersebut kata Danang, juga dibahas pentingnya keterlibatan pemerintah Indonesia dalam berbagai isu terkait Antarktika, khususnya dalam konteks Antarctic Treaty System (ATS). Antarktika tidak hanya dipandang sebagai wilayah penelitian ilmiah, tetapi juga sebagai ruang strategis yang memerlukan partisipasi aktif komunitas internasional dalam menjaga perdamaian, keberlanjutan lingkungan, dan kerja sama ilmiah global. “Keterlibatan pemerintah menjadi salah satu aspek penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kerja sama dan diplomasi ilmiah terkait Antarktika di masa mendatang,” ungkapnya.

Dubes Chile menyebutkan beberapa potensi kolaborasi ada dalam bidang Tropical–Polar Research, termasuknya Chilean Antarctic Institute (INACH), Universidad de Magallanes (UMAG), Instituto Milenio BASE, dan Universidad de Chile. “Dukungan ini mencakup fasilitasi komunikasi, penjajakan kerja sama, serta penguatan jejaring akademik dan penelitian antara kedua negara,” ujar Danang .

Selain bidang penelitian Antarktika dan perubahan iklim, Danang menegaskan bahwa peluang kerja sama antara Chile dan Indonesia sangat terbuka untuk berbagai disiplin ilmu. Ia menilai beberapa bidang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama. Bidang tersebut tidak jauh dari pertanian dan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan dan keberlanjutan, kelautan dan perikanan, kebencanaan dan perubahan iklim, serta vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.

Ia mengungkapkan terutama pada bidang vulkanologi, Chile dan Indonesia memiliki karakteristik yang serupa sebagai negara yang berada pada jalur tektonik aktif (Ring of Fire). Menurutnya, terdapat peluang besar untuk pengembangan penelitian bersama. Hal tersebut terkait aktivitas vulkanik, mitigasi bencana, sistem pemantauan gunung api, geotermal, serta dampak vulkanisme terhadap lingkungan dan masyarakat.

Sementara Duta Besar Chile Mario Artaza menegaskan di Chile khususnya Kota Punta Arenas, memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu gerbang utama menuju Antarktika. Ia menyebutkan terkait infrastruktur, jaringan logistik, dan ekosistem penelitian di area tersebut telah berkembang. Berangkat dari hal ini, Chile menjadi mitra penting bagi Indonesia dan UGM dalam upaya meningkatkan keterlibatan pada penelitian dan aktivitas ilmiah di kawasan Antarktika.

Lebih lanjut, pertemuan juga menyoroti kesamaan posisi Chile dan Indonesia sebagai negara-negara Global South yang memiliki peran dalam menjawab berbagai tantangan global. Menurutnya, kedua negara memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat kontribusi negara berkembang dalam isu-isu strategis dunia. “Termasuk perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, dan penelitian kutub,” katanya.

Mario Artaza turut menyampaikan komitmennya untuk mendukung peningkatan keterlibatan UGM dan Indonesia dalam berbagai kegiatan ilmiah dan kolaborasi terkait Antarktika. Dukungan tersebut didasarkan pada prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan kepentingan bersama. “Kerja sama yang dibangun dapat memberikan manfaat bagi Chile, Indonesia, serta komunitas ilmiah internasional secara lebih luas,” pungkasnya.

#Perubahan Iklim

Index

Berita Lainnya

Index