ANALISD.COM - Latar Belakang
Pandemi COVID-19 memberikan dampak besar terhadap kesehatan, ekonomi, sosial, dan ketahanan pangan masyarakat Indonesia. UNICEF memperingatkan bahwa terganggunya layanan kesehatan, menurunnya pendapatan keluarga, dan terganggunya rantai pasok pangan dapat meningkatkan kDi Provinsi Riau, termasuk Kabupaten Siak, masalah stunting masih menjadi perhatian penting. Data Riskesdas menunjukkan bahwa angka stunting nasional memang menurun, tetapi masih berada di atas target WHO. Bahkan Kabupaten Siak termasuk daerah yang mengalami peningkatan angka stunting dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan baru yang tidak hanya berfokus pada bantuan pangan, tetapi juga membangun ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan.
Gagasan Program
Program Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal Melalui Pemberdayaan Perempuan merupakan model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek kKajian ini berangkat dari beberapa persoalan mendasar:
Program ini digagas oleh Yayasan Filantropi Masyarakat Siak Riau sebagai organisasi sosial yang berfungsi mengorganisir potensi kedermawanan masyarakat, perusahaan, BUMN, dan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Siak.
Pendekatan utama program adalah mengembalikan peran pangan lokal sebagai sumber gizi keluarga sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai penggerak utama kesehatan keluarga.
Dasar Pemikiran
1. Ketergantungan masyarakat terhadap beras dan pangan berbasis gandum telah menggeser konsumsi pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, sayuran lokal, ikan air tawar, dan berbagai sumber protein tradisional.
2. Alih fungsi lahan dan ekspansi perkebunan telah menyebabkan berkurangnya pengetahuan masyarakat mengenai budidaya pangan lokal.esehatan, pangan lokal, ketahanan pangan keluarga, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.asus gizi buruk, wasting, dan stunting pada anak-anak. Sebelum pandemi pun Indonesia telah menghadapi masalah gizi yang serius, dengan jutaan balita mengalami stunting dan kekurangan gizi.
3. Makanan bergizi sering dianggap mahal sehingga keluarga miskin sulit memenuhi kebutuhan nutrisi.
4. Perempuan memiliki peran sentral dalam pengasuhan anak, pengelolaan pangan rumah tangga, dan pemenuhan gizi keluarga.
5. Program diversifikasi pangan selama ini lebih banyak berupa kampanye tanpa pendampingan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu diperlukan program yang mampu menghubungkan ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Landasan Konsep Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan pengetahuan, nilai, dan praktik yang berkembang dalam masyarakat melalui pengalaman panjang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam konteks pangan, kearifan lokal tercermin dalam :
Pemanfaatan lahan pekarangan.
Budidaya tanaman lokal.
Pengelolaan sumber daya perikanan d1. Mencegah dan menurunkan angka stunting serta gizi buruk.
2. Meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
3. Mendorong diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
4. Memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan di tingkat keluarga dan komunitas.
5. Mengurangi ketergantungan terhadap pangan impor dan pangan instan.
6. Mengembangkan model pembangunan berkelanjutan yang berbasis masyarakat.
Peran Yayasan Filantropi Masyarakat Siak Riau
Yayasan berfungsi sebagai :
Pengelola dan penyelenggara program.an peternakan tradisional.
Penghubung antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta.
Penggerak filantropi dan CSR perusahaan.
Pengawas implementasi program.
Fasilitator pemberdayaan masyarakat.Berkelanjutan
Kemitraan Program
Program dirancang sebagai kolaborasi multipihak yang melibatkan:
Penyelenggara
Yayasan Filantropi Masyarakat Siak Riau.
Pendanaan
CSR perusahaan perkebunan sawit.
BUMN dan BUMD.
Donasi filantropi masyarakat.
Pendamping Lapangan
PKK.
Kader perempuan.
Organisasi masyarakat.
Keluarga buruh.
Pendamping Teknis
Akademisi.
Ahli gizi.
Penyuluh pertanian.
Tenaga kesehatan.
Koordinasi
Pemerintah Kabupaten Siak.
Pemerintah Provinsi Riau.
Kementerian terkait seperti Kemenkes, Kementan, Kemendes, KKP, dan Kemenko PMK.
Dasar Pendanaan CSR dan Filantropi
Program memiliki dasar hukum yang kuat melalui berbagai regulasi tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN.
Pendanaan CSR dipandang tepat karena:
Berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Mendukung pembangunan sosial.
Mengurangi kesenjangan sosial.
Memperkuat hubungan perusahaan dan masyarakat.
Menciptakan dampak jangka panjang bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Hubungan Program dengan Penanganan Stunting
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Penyebab utama stunting meliputi:
Pola asuh yang kurang baik.
Kurangnya asupan gizi ibu hamil.
Tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif.
Keterbatasan akses layanan kesehatan.
Kurangnya akses pangan bergizi.
Sanitasi dan air bersih yang buruk.Perbaikan pola makan balita.
Intervensi Gizi Sensitif
Ketahanan pangan keluarga.
Pendidikan gizi masyarakat.
Pemberdayaan ekonomi keluarga.
Pemanfaatan lahan pekarangan.
Dengan demikian program tidak hanya mengobati masalah gizi tetapi juga menyentuh akar penyebabnya.
Mengapa Perempuan Menjadi Fokus?
Kajian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam:
Menentukan menu keluarga.
Mengelola pangan rumah tangga.
Mengasuh anak.
Menjaga kesehatan keluarga.
Mengelola pekarangan rumah.
Mengembangkan usaha pangan rumah tangga.
Dalam sejarah pertanian tradisional Indonesia, perempuan juga memiliki peran penting dalam pemilihan benih, budidaya tanaman, dan pelestarian pengetahuan pangan lokal.
Karena itu, investasi pada perempuan akan menghasilkan dampak langsung terhadap kesehatan ibu dan anak.
Model Program yang Diusulkan
1. Pemanfaatan Pekarangan Rumah
Pekarangan menjadi sumber pangan keluarga melalui penanaman:
Cabai
Sayuran
Buah-buahan
Tanaman obat keluarga
Rempah-rempah
Manfaatnya:
Menyediakan pangan segar.
Mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Menambah pendapatan keluarga.
Memperbaiki kualitas gizi.
2. Budidaya Lele dalam Kolam Terpal
Budidaya lele dipilih karena:
Membutuhkan lahan sempit.
Biaya relatif murah.
Cepat panen.
Menjadi sumber protein keluarga.
Selain untuk konsumsi sendiri, hasil panen dapat dijual sehingga menambah pendapatan rumah tangga.
3. Beternak Ayam KampungFosfor.
Zat besi.Program mendorong perubahan pola konsumsi dari ketergantungan pada satu jenis pangan menuju pola makan yang lebih beragam.
Diversifikasi pangan dilakukan melalui:
Pemanfaatan umbi-umbian lokal.
Konsumsi ikan dan hasil perikanan.
Sayuran dan buah lokal.
Peternakan rumah tangga.
Pengolahan pangan tradisional.
Pendekatan ini sejalan dengan:
UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012.Vitamin.
Program mendorong perubahan pola konsumsi dari ketergantungan pada satu jenis pangan menuju pola makan yang lebih beragam.
Diversifikasi pangan dilakukan melalui:
Pemanfaatan umbi-umbian lokal.
Konsumsi ikan dan hasil perikanan.
Sayuran dan buah lokal.
Peternakan rumah tangga.
Pengolahan pangan tradisional.
Pendekatan ini sejalan dengan:
UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012.
Program ini mendukung beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama:
Tanpa Kemiskinan.
Tanpa Kelaparan.
Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Kesetaraan Gender.
Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Penanganan Perubahan Iklim.
Dengan demikian program tidak hanya menyelesaikan masalah gizi, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Manfaatnya:
Mencegah anemia.
Mendukung pertumbuhan anak.
Menjadi sumber pangan keluarga.
Berpotensi sebagai usaha ekonomi rumah tangga.
Diversifikasi Pangan sebagai Strategi Utama Ayam kampung menyediakan:
Telur. Daging.
Sumber protein berkualitas tinggi.
Telur ayam kampung memiliki kandungan vitamin, omega-3, dan nutrisi penting yang mendukung pertumbuhan anak dan kesehatan ibu.
4. Budidaya Belut dalam Drum atau Tong
Belut memiliki kandungan :
Protein tinggi.
Program ini berkontribusi pada dua jenis intervensi:
Intervensi Gizi Spesifik
Edukasi ibu hamil.
Peningkatan konsumsi pangan bergizi.
Pendampingan ibu menyusui.
Pendekatan yang digunakan mengedepankan prinsip:
Holistik
Tematik
Terintegrasi
Spasial
Pengolahan pangan sesuai budaya setempat.
Gotong royong dan solidaritas sosial masyarakat.
Kearifan lokal tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan strategi bertahan hidup masyarakat.
Tujuan Program
Program ini bertujuan untuk :
Kesimpulan
Program Nutrisi Berbasis Kearifan Lokal Melalui Pemberdayaan Perempuan di Siak, Riau merupakan model pembangunan kesehatan masyarakat yang mengintegrasikan ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, pelestarian pangan lokal, dan penguatan ekonomi rumah tangga.
Program ini berangkat dari kenyataan bahwa stunting dan gizi buruk tidak hanya disebabkan oleh kurangnya layanan kesehatan, tetapi juga oleh lemahnya ketahanan pangan keluarga, hilangnya budaya pangan lokal, dan berkurangnya peran perempuan dalam sistem pangan masyarakat.
Melalui pemanfaatan pekarangan, budidaya ikan lele, beternak ayam kampung, budidaya belut, pendidikan gizi, serta pendampingan perempuan oleh tenaga ahli, program ini berupaya menciptakan sistem pangan keluarga yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan.
Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan melalui CSR, BUMN, organisasi masyarakat, dan jaringan filantropi, program ini dapat menjadi model inovatif dalam pencegahan stunting, penguatan ketahanan pangan, serta pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan Indonesia masa kini dan masa depan.
