ANALISD.COM - TEGAL, Isu perubahan iklim menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Tegal dan para pegiat lingkungan. Melalui berbagai program edukasi dan pengelolaan sampah, masyarakat diajak untuk mengambil peran aktif dalam mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal, Kabul Pamudjo dan Ketua DPD Asobsi Kota Tegal Santoso dalam podcast di Studio Radar Tegal Televisi.
Menurut Kabul, perubahan iklim yang terjadi saat ini tidak lepas dari meningkatnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Berbagai fenomena seperti meningkatnya suhu udara, cuaca yang tidak menentu, abrasi di wilayah pesisir, hingga menurunnya kualitas lingkungan merupakan dampak yang muncul akibat pencemaran udara dan pengelolaan sampah yang belum optimal.
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi sudah menjadi kenyataan yang kita rasakan saat ini. Pencemaran udara, abrasi pantai, serta penumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik menjadi faktor yang mempercepat terjadinya kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Menurut Kabul, pengelolaan sampah yang baik memiliki peran penting dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca. Sampah yang menumpuk dan tidak tertangani dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.
Ia menambahkan, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026, “Act Now For Climate” atau “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan harus dilakukan secara nyata dan berkelanjutan oleh seluruh elemen masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPD Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi) Kota Tegal, Santoso, menyatakan dukungannya terhadap berbagai program lingkungan yang dijalankan Pemerintah Kota Tegal.
Menurutnya, keberadaan bank sampah menjadi salah satu solusi efektif untuk mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah.
Santoso mengungkapkan bahwa Asobsi bersama jaringan bank sampah di Kota Tegal terus berupaya memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah dari sumbernya. Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, sekaligus menekan potensi pencemaran lingkungan.
“Kami bersama seluruh pengelola bank sampah di Kota Tegal berkomitmen mendukung program pemerintah dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan dampak perubahan iklim. Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi kelestarian lingkungan,” kata Santoso.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.
Melalui gerakan bank sampah, warga diajak untuk mengubah pola pikir bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
Santoso berharap kolaborasi antara pemerintah, bank sampah, dunia pendidikan, komunitas lingkungan, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga upaya pengurangan sampah dan pengendalian perubahan iklim dapat berjalan lebih efektif.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan, Kota Tegal diharapkan mampu menjadi salah satu daerah yang aktif mendukung upaya pengurangan emisi serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
