Indonesia Terancam Kehilangan Gajah Kerdil Borneo, Populasi Hanya Puluhan Ekor

Ahad, 18 Januari 2026 | 01:00:44 WIB
Ilustrasi Gajah Kerdil Borneo

ANALISD.COM – Indonesia menyimpan salah satu spesies paling unik di dunia, Gajah Kerdil Borneo (Elephas maximus borneensis). Satwa endemik ini memiliki ukuran lebih kecil dibanding gajah Asia lainnya, namun ancamannya jauh lebih besar daripada ukurannya.

Menurut laporan WWF Indonesia (2025), populasi gajah kerdil di wilayah Indonesia diperkirakan hanya 30–100 individu, tersebar di hutan Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Nunukan dan sekitarnya. Sementara itu, Detik.com (2025) mencatat bahwa di Sabah, Malaysia, populasi gajah kerdil mencapai 1.500–2.000 ekor. Fakta ini menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen populasi subspesies ini berada di luar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi peringatan serius bahwa Indonesia berisiko kehilangan satwa endemik ikonik ini jika tidak segera diambil langkah nyata.

Ancaman terbesar bagi gajah kerdil adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. WWF Indonesia (2025) melaporkan bahwa kawasan hutan tersisa di Kalimantan Utara semakin terfragmentasi akibat ekspansi perkebunan sawit, pembangunan infrastruktur, serta pembukaan lahan pertanian.

Fragmentasi habitat memaksa gajah memasuki kebun rakyat untuk mencari makanan, yang pada akhirnya memicu konflik manusia–satwa. Data Natural History Museum (2024) menegaskan bahwa populasi yang kecil membuat setiap individu gajah kerdil sangat penting bagi keberlangsungan genetik spesies. Berbeda dengan Malaysia yang memiliki populasi relatif lebih besar dan stabil, gajah kerdil di Indonesia menghadapi risiko kepunahan lokal yang jauh lebih tinggi. Setiap kematian individu memberikan dampak signifikan terhadap kelangsungan subspesies ini di dalam negeri.

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Apakah Indonesia akan membiarkan hilangnya satu lagi spesies endemik, atau bersatu untuk mencegah kepunahan lokal tersebut. Upaya konservasi gajah kerdil tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus bersifat holistik dan integratif.

Penetapan kawasan lindung saja tidak cukup. Pemerintah dan masyarakat perlu mengelola koridor satwa untuk menjaga konektivitas habitat, mencegah perambahan ilegal, serta melibatkan petani dan masyarakat lokal dalam mitigasi konflik. Edukasi publik juga menjadi kunci agar kesadaran bahwa melindungi gajah berarti menjaga keseimbangan ekosistem, ketahanan pangan lokal, dan masa depan generasi mendatang semakin kuat.

Krisis gajah kerdil Borneo bukan sekadar isu lingkungan, melainkan indikator bagaimana kebijakan, pengelolaan ruang hidup, dan keberpihakan terhadap alam menentukan nasib spesies endemik. Tanpa langkah konservasi yang segera dan konsisten, Indonesia berisiko kehilangan sebagian kecil populasi gajah kerdil yang tersisa, dan meninggalkan Sabah sebagai satu-satunya wilayah tempat mereka bertahan di dunia.

Gajah kerdil Borneo menjadi cermin nyata hubungan antara manusia, kebijakan ruang hidup, dan ekosistem. Saatnya seluruh pihak memperkuat kesadaran kolektif dan bertindak bersama sebelum kesempatan itu hilang selamanya.

Penulis:
Zainal Arifin Hussein
Pemerhati Lingkungan dan Sosial

Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan rujukan media nasional dan internasional serta publikasi lembaga resmi dan organisasi terkait. Seluruh data dan informasi dihimpun dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pandangan, analisis, dan opini yang disampaikan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mewakili sikap resmi redaksi Analisd.com maupun pihak manapun

Terkini