ANALISD.COM - Larantuka -Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma memaparkan strategi Pemerintah Provinsi NTT dalam membangun ekonomi desa berbasis potensi lokal melalui program One Village One Product (OVOP) dan NTT Mart di hadapan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto.
Penyampaian itu berlangsung dalam kegiatan tatap muka bersama para camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten Flores Timur di Gudang Koperasi Desa Merah Putih, Kelurahan Weri, Jumat (3/7/2026).
Turut hadir Wakil Ketua Komisi IV DPR Ahmad Yohan, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal Tabrani, Wakil Kepala Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal Agustomi Masik, serta para camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten Flores Timur.
Dalam arahannya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian desa melalui pengelolaan potensi lokal.
“Koperasi Desa Merah Putih harus menjadi wadah yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena itu diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, camat, kepala desa, lurah, dan seluruh elemen masyarakat agar program ini berjalan optimal,” ujar Yandri.
Yandri menegaskan, setiap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan menyerap sedikitnya 17 tenaga kerja lokal yang wajib berasal dari desa atau kelurahan tempat koperasi tersebut berada. “Kalau ada tenaga kerja dari luar, lapor ke Kemendes. Pasti akan kita periksa,” tegasnya.
Selain membuka akses pembiayaan berbunga rendah melalui Bank Himbara, koperasi tersebut juga akan menjadi distributor sembako bersubsidi, penyedia pupuk, hingga penampung hasil panen petani. Menurut Yandri, program ini dirancang untuk memutus ketergantungan masyarakat terhadap rentenir dan pinjaman online ilegal sekaligus memperkuat ekonomi desa.
Menanggapi arah kebijakan tersebut, Wakil Gubernur Johni Asadoma menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah menyiapkan strategi pembangunan ekonomi desa yang sejalan dengan program pemerintah pusat melalui pengembangan One Village One Product (OVOP).
Johni mengatakan desa kini tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang pembangunan, melainkan telah menjadi halaman depan Indonesia. Dari desa lahir ketahanan pangan, tumbuh kewirausahaan, berkembang kebudayaan, dan terbangun kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, setiap desa di NTT memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan hingga kerajinan tangan. Potensi tersebut harus diolah menjadi produk unggulan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Oleh karena itu, Pemprov NTT mengembangkan program One Village One Product (OVOP), yaitu mendorong setiap desa memiliki satu produk unggulan yang lahir dari potensi lokal, dikelola oleh masyarakat sendiri, dan memiliki nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan. Kita tidak ingin desa hanya menjadi penghasil bahan mentah. Kita ingin desa menjadi pusat kreativitas, pusat produksi, sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Johni.
Untuk memperkuat pemasaran produk desa, lanjut Johni, Pemprov NTT juga mengembangkan NTT Mart sebagai jembatan yang menghubungkan produk-produk unggulan desa dengan pasar yang lebih luas.
“Melalui NTT Mart, kami ingin memastikan hasil kerja keras para petani, nelayan, pengrajin, pelaku UMKM, dan Badan Usaha Milik Desa memperoleh akses pasar yang semakin terbuka sehingga nilai ekonomi yang dinikmati masyarakat juga semakin besar,” katanya.
Wagub Johni menilai program OVOP sangat ideal disinergikan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Menurutnya, koperasi tersebut akan menjadi wadah kelembagaan utama bagi pelaku UMKM desa untuk memproduksi, mengemas, hingga mendistribusikan produk unggulan secara mandiri.
“OVOP sangat ideal disinkronkan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ini akan menjadi wadah kelembagaan utama bagi pelaku UMKM di desa untuk memproduksi, mengemas, hingga mendistribusikan produk unggulan secara mandiri dan berskala global,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, Johni mengajak seluruh camat, lurah, dan kepala desa di Flores Timur untuk terus menjadi pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mampu membaca potensi desanya, berani berinovasi, serta membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Jadikan setiap program desa sebagai jalan untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyampaikan apresiasi atas kunjungan kerja Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal ke Flores Timur.
Menurutnya, kehadiran Menteri menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, dan pembangunan ekonomi masyarakat desa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif. Para camat, lurah, dan kepala desa menyampaikan berbagai aspirasi, tantangan, serta usulan terkait pembangunan desa, infrastruktur, pelayanan dasar, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pertemuan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah desa dalam mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (*/gma)