Ilmuwan Sebut Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas di Piala Dunia 2026

Sabtu, 04 Juli 2026 | 15:04:07 WIB
ket foto : Ilustrasi perubahan iklim

ANALISD.COM - Batam - Gelombang panas dan kelembapan tinggi yang menyelimuti penyelenggaraan Piala Dunia dinilai bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim akibat emisi dari bahan bakar fosil menjadi penyebab utama kondisi ekstrem yang kini mulai memengaruhi jalannya turnamen, bahkan berpotensi mengancam keselamatan pemain dan penonton.

DIlansir dari Reuters, salah satu pertandingan yang menjadi perhatian adalah laga Paraguay kontra Prancis yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026 pukul 17.00 waktu setempat di Philadelphia. Pertandingan tersebut diprediksi dimainkan dalam suhu yang melampaui ambang batas aman menurut rekomendasi FIFPRO, serikat pemain sepak bola profesional dunia.

Cuaca ekstrem itu dipicu oleh fenomena heat dome, yakni tekanan udara tinggi yang menjebak udara panas di dekat permukaan bumi sehingga suhu terus meningkat. National Weather Service (NWS) memperkirakan indeks panas di sejumlah wilayah Amerika Serikat bagian Midwest dan Pantai Timur dapat mencapai 40,5 hingga 46 derajat Celsius, termasuk beberapa kota penyelenggara Piala Dunia.

Selain berpotensi memengaruhi pertandingan, kondisi tersebut juga diperkirakan memberikan tekanan besar terhadap pasokan listrik serta mengganggu berbagai aktivitas luar ruangan yang berlangsung bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat pada akhir pekan Hari Kemerdekaan 4 Juli.

Profesor Ilmu Iklim dari Centre for Environmental Policy, Imperial College London, Friederike Otto, menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi peringatan nyata mengenai dampak perubahan iklim.

"Ketika perayaan bersejarah Hari Kemerdekaan 4 Juli terganggu, dan pertandingan Piala Dunia dimainkan dalam kondisi yang tidak aman bagi pemain maupun penonton, seharusnya kita tidak memerlukan lagi penelitian ilmiah tambahan untuk menyadarkan semua orang."

Ia menegaskan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dampaknya akan terus meningkat apabila pengurangan emisi gas rumah kaca terus ditunda.

"Perubahan iklim sudah terjadi, dampaknya sudah memengaruhi berbagai hal yang kita nikmati dalam kehidupan sehari-hari, dan kondisinya akan terus memburuk selama kita menunda transisi menuju emisi nol bersih (net-zero emissions)."

Persoalan suhu ekstrem sebenarnya telah menjadi perhatian sejak penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub tahun lalu di Amerika Serikat. Saat itu, FIFPRO mengingatkan bahwa cuaca panas dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan pemain.

Organisasi tersebut memang mengapresiasi langkah FIFA yang mulai mempertimbangkan faktor kesehatan dalam penyusunan jadwal pertandingan dan pemilihan stadion untuk Piala Dunia. Namun, FIFPRO menilai masih ada sejumlah pertandingan yang tetap dimainkan dalam kondisi berisiko.

FIFPRO juga memperingatkan bahwa pemanasan global akan membuat suhu ekstrem semakin sering terjadi sehingga penyelenggara kompetisi sepak bola harus menjadikan faktor cuaca sebagai bagian penting dalam menyusun kalender pertandingan di masa mendatang.

Hingga saat ini, FIFA belum memiliki aturan yang secara otomatis mewajibkan penundaan pertandingan ketika suhu mencapai tingkat yang membahayakan. Badan sepak bola dunia tersebut juga belum memberikan pernyataan resmi terkait sorotan terhadap cuaca ekstrem selama penyelenggaraan turnamen.

Terkini