ANALISD.COM - JAKARTA — Gelombang panas yang melanda Eropa Barat disebut sebagai yang paling parah dan paling luas sepanjang sejarah pencatatan. Para ilmuwan menyatakan peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi tanpa krisis iklim yang dipicu pembakaran bahan bakar fosil.
Hasil kajian juga menunjukkan hampir separuh dari 850 kota terbesar di Eropa mengalami tingkat tekanan panas (heat stress) tertinggi yang pernah tercatat. Kondisi tersebut merupakan kombinasi suhu udara yang sangat tinggi dan kelembapan yang meningkat.
Tingkat kelembapan yang tinggi membuat penguapan keringat menjadi kurang efektif dalam mendinginkan tubuh sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat gelombang panas.
Kajian tersebut dirilis ketika Inggris mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni, yakni 36,7 derajat Celsius di Somerset. Sementara itu, sejumlah negara di Eropa Barat melaporkan lonjakan kasus kedaruratan medis, termasuk korban meninggal dunia.
Pada musim panas 2022, lebih dari 60 ribu orang meninggal akibat gelombang panas di Eropa. Para ilmuwan menyatakan analisis statistik mengenai dampak gelombang panas tahun ini masih membutuhkan waktu. Meski demikian, mereka meyakini dampaknya akan sangat besar.
Gelombang panas tersebut juga mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari penutupan sekolah, tekanan terhadap layanan rumah sakit, hingga pembatalan perjalanan kereta api dan penerbangan di berbagai negara Eropa.
Dilansir Guardian, Sabtu (27/6/2026), analisis terbaru yang dilakukan konsorsium World Weather Attribution (WWA) menunjukkan bahwa cuaca panas ekstrem semakin cepat memburuk seiring meningkatnya emisi karbon di atmosfer.
Menurut penelitian itu, jika peristiwa serupa terjadi pada 2003, suhu gelombang panas akan sekitar dua derajat Celsius lebih rendah dibandingkan saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas besar pada 1976, suhu saat ini sekitar 3,5 derajat Celsius lebih tinggi.
Para ilmuwan juga menemukan suhu malam hari yang sangat panas sehingga mengganggu waktu istirahat masyarakat kini sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan pada 2003.
Mereka mengingatkan, tanpa percepatan upaya pengendalian perubahan iklim, gelombang panas di masa mendatang akan menjadi lebih ekstrem sehingga musim panas tahun ini bisa dianggap relatif lebih sejuk dibandingkan masa depan.
Peneliti cuaca ekstrem Imperial College London sekaligus anggota WWA, Dr Theodore Keeping, mengatakan gelombang panas kali ini merupakan yang paling parah dan paling luas yang pernah melanda kawasan Eropa.
"Dalam 50 tahun terakhir, ketika suhu rata-rata bumi meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini meningkat sangat drastis. Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim," katanya.

Sebuah keluarga melindungi anak mereka dari terik matahari di luar Istana Buckingham saat cuaca panas di London, Inggris, 26 Juni 2026. Peringatan merah dari Met Office tentang panas ekstrem masih berlaku untuk wilayah Timur dan Tenggara Inggris, karena gelombang panas terus melanda sebagian besar wilayah Inggris. - (Epa)
Ia mengatakan banyak ibu kota negara di Eropa tidak hanya mengalami periode tiga hari terpanas sepanjang Juni, tetapi juga menjadi periode tiga hari terpanas sepanjang sejarah pencatatan.
Diperkirakan lebih dari 100 juta penduduk Eropa menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan indikator wet bulb globe temperature untuk mengukur dampak gabungan antara suhu dan kelembapan terhadap kemampuan tubuh manusia mendinginkan diri.
Keeping mengatakan sekitar 45 persen kota berpenduduk lebih dari 50 ribu jiwa mengalami tingkat tekanan panas tertinggi sepanjang sejarah sehingga dampak kesehatannya diperkirakan sangat besar.
"Sangat mengejutkan melihat kecepatan perubahan yang terjadi," ujarnya.
Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Simon Stiell, mengatakan perubahan iklim terus memburuk akibat ketergantungan dunia terhadap batu bara, minyak, dan gas.
Namun, menurut dia, solusi sudah sangat jelas, yakni mempercepat transisi menuju energi bersih yang kini lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil, melindungi hutan, serta memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
Tim WWA menyatakan pola cuaca berupa sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di atas Eropa dan membawa udara panas dari Gurun Sahara sebenarnya merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim panas.
Namun, tingkat panas yang terjadi saat ini meningkat secara signifikan akibat pemanasan global.

Seseorang meminum air dari pancuran umum saat gelombang panas melanda Milan, Italia, pada 24 Juni 2026. Gelombang panas ekstrem terus berlangsung di Eropa Barat dan Tengah, mendorong suhu jauh melampaui angka normal untuk pertengahan bulan Juni. - (EPA)
Perwakilan Red Cross Red Crescent Climate Centre, Carolina Pereira Marghidan, mengatakan berbagai negara di Eropa memang telah memperkuat sistem peringatan dini sejak gelombang panas mematikan pada 2003.
Menurut berbagai penelitian, sistem tersebut telah menyelamatkan banyak nyawa, namun belum cukup menghadapi ancaman yang terus meningkat.
Komite Perubahan Iklim Inggris sebelumnya juga menyatakan sebagian besar infrastruktur negara itu dibangun untuk kondisi iklim yang sudah tidak lagi sesuai dengan situasi saat ini sehingga memerlukan pembenahan secara mendesak.
Sementara itu, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mencatat lebih dari 10 ribu orang meninggal akibat gelombang panas selama periode 2020 hingga 2024.
Pada Rabu, layanan ambulans London menangani 641 kasus kedaruratan yang mengancam jiwa dalam sehari, jumlah tertinggi sepanjang sejarah.
Kelompok lanjut usia, anak-anak, serta masyarakat rentan menjadi pihak yang paling berisiko. Namun, otoritas kesehatan Inggris mengingatkan seluruh masyarakat juga menghadapi ancaman serius akibat gelombang panas tersebut.
Penelitian lain mengenai gelombang panas di Eropa pada 2024 memperkirakan lebih dari 2.300 orang meninggal hanya dalam tiga hari di 12 kota.
Profesor Friederike Otto dari Imperial College London mengatakan sekitar dua pertiga dari jumlah korban tersebut tidak akan meninggal apabila perubahan iklim tidak terjadi.
"Sebagai ilmuwan, kami seperti mengulang pesan yang sama setiap tahun. Gelombang panas terus meningkat. Ya, ini akibat perubahan iklim. Ya, penyebabnya adalah aktivitas manusia. Solusinya sudah ada, tetapi pelaksanaannya belum cukup cepat. Kini pertanyaannya adalah masa depan seperti apa yang kita inginkan dan apakah kita bersedia melakukan langkah yang diperlukan untuk mewujudkannya," ujar Otto.