Batas Aman Pemanasan Global Terancam Terlampaui 4 Tahun Lagi

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:34:55 WIB
ket foto : ilustrasi

ANALISD.COM - JAKARTA — Laporan terbaru Indicators of Global Climate Change (IGCC) yang diterbitkan dalam jurnal Earth System Science Data mengungkap bahwa aktivitas manusia telah mendorong pemanasan global mencapai 1,37 derajat Celsius pada 2025 dan diproyeksikan melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius dalam sekitar empat tahun ke depan. 

Laporan yang melibatkan lebih dari 70 ilmuwan dari 56 institusi di 17 negara ini mencatat emisi gas rumah kaca global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 56,8 miliar ton setara karbon dioksida (CO2e) pada 2024, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Laju pemanasan yang disebabkan aktivitas manusia juga tercatat di level tertinggi sepanjang masa, yakni sekitar 0,27 derajat Celsius per dekade. 

Para ilmuwan dalam laporan turut menyoroti kondisi ketidakseimbangan energi Bumi yang mencapai level memprihatinkan. Energi Bumi yang merefleksikan ukuran seberapa cepat panas terakumulasi dalam sistem iklim melanjutkan tren tumbuh sejak 1970-an dan kini berada di level tertinggi yang pernah tercatat, bahkan berlipat ganda dalam beberapa dekade terakhir. Penulis utama laporan sekaligus Direktur Priestley Centre for Climate Futures Universitas Leeds Prof. 

Piers Forster mengatakan ketidakseimbangan energi Bumi seharusnya mendekati nol tanpa pengaruh manusia. "Tanpa pengaruh manusia, indikator ini seharusnya mendekati nol, tetapi terus tumbuh sejak 1970-an dan kini berada di rekor tertinggi, berlipat ganda dalam beberapa dekade terakhir," katanya, dikutip dari siaran pers, Jumat (12/6/2026).

Konsekuensi paling mendesak dari tren ini adalah menipisnya anggaran karbon global. Mulai awal 2026, sisa anggaran karbon untuk membatasi pemanasan tetap di bawah 1,5 derajat Celsius diestimasi hanya 130 miliar ton CO2. 

Jika laju emisi saat ini berlanjut, volume anggaran karbon tersebut diperkirakan habis dalam sekitar tiga tahun. Adapun untuk target 1,7 derajat Celsius, anggaran karbon yang tersisa diestimasi 500 miliar ton CO2 dan akan habis dalam sekitar 12 tahun. 

Strategic Lead for Climate Copernicus Climate Change Service (C3S) di ECMWF Dr. Samantha Burgess mengatakan hampir seluruh pemanasan dalam satu dekade terakhir didorong oleh aktivitas manusia. 

"Dampak terhadap mata pencaharian dan ekosistem sudah dirasakan di seluruh dunia, dan akan makin cepat seiring suhu terus meningkat," katanya. 

Banjir Pesisir dan Gelombang Panas Meningkat Laporan ini juga mencatat sejumlah indikator fisik yang mempertegas percepatan perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut global mencapai rekor 23 sentimeter sejak 1901, dengan laju kenaikan sekitar 1,8 milimeter per tahun yang terus berakselerasi akibat peningkatan suhu lautan dan mencairnya es daratan. 

Peneliti Royal Netherlands Institute for Sea Research (NIOZ) Dr. Aimée Slangen mengatakan meski terdengar kecil, perubahan level permukaan laut ini sudah meningkatkan frekuensi banjir pesisir di wilayah dengan dataran rendah di seluruh dunia. 

"Ini mungkin terdengar kecil, tetapi bahkan perubahan pada level ini sudah meningkatkan banjir pesisir di wilayah dataran rendah di seluruh dunia, merugikan mata pencaharian dan ekosistem," katanya. 

Laporan juga memperkenalkan indikator baru, yakni jumlah hari gelombang panas laut. Pada 2025 saja, dunia mengalami 65 hari gelombang panas laut. Secara global, jumlah hari gelombang panas laut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat antara 1991 dan 2025. 

Prof. June-Yi Lee dari Pusan National University mengatakan gelombang panas laut makin sering terjadi seiring pemanasan permukaan laut yang terus berlanjut. Kondisi ini meningkatkan ancaman pada ekosistem laut, produksi pangan, dan perlindungan wilayah pesisir. 

"Gelombang panas laut makin sering terjadi, konsisten dengan pemanasan permukaan laut yang terus berlanjut. Jumlah hari gelombang panas laut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat secara global antara 1991 dan 2025. 

Peristiwa ini merusak ekosistem laut sekaligus mengancam produksi pangan, perekonomian, dan perlindungan pesisir," katanya. Di sisi lain, laporan ini juga menyoroti ancaman terhadap keberlangsungan pemantauan iklim global itu sendiri. 

Lebih dari 40 dataset global yang digunakan dalam laporan IGCC edisi ini kini terancam oleh keputusan pendanaan di berbagai negara. 

Senior Research Scholar International Institute for Applied Systems Analysis Dr. Chris Smith mengatakan tanpa koordinasi internasional untuk menjaga keberlangsungan observasi iklim, asesmen serupa di masa depan akan jauh lebih sulit dilakukan. "Tanpa ini, asesmen di masa depan akan jauh lebih sulit dilakukan pada saat aksi iklim yang mendesak sangat dibutuhkan," katanya.
 

Terkini