Tiga Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Hutan Sumatera

Selasa, 05 Mei 2026 | 23:00:00 WIB
ket foto : Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Hutan Sumatera

ANALISD.COM -Di tengah riuhnya media sosial dengan aneka unggahan, ada sebuah cerita temuan ilmiah menarik. Siapa sangka, unggahan foto yang dianggap biasa dari penghobi tanaman hias justru menjadi kunci pembuka penemuan tiga spesies baru dari genus Homalomena, kelompok talas-talasan (Araceae).

Dua peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, awalnya tertarik dengan beberapa unggahan itu. Penelitian taksonomi lanjutan kemudian membuktikan bahwa tanaman hias tersebut merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan.

Mereka menuliskan laporan temuannya di Jurnal Telopea berjudul “Taxonomic contributions to the genus Homalomena (Araceae) in Western Malesia: three new species from Sumatra discovered through the ornamental plant trade.

Ketiga spesies baru itu diberi nama Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata.

“Hal ini menegaskan peran yang semakin besar dari platform digital dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi, khususnya di Sumatera,” tulis Hariri dan kolega, Jumat (27/3/2026).

Temuan itu bukan satu-satunya spesies baru Homalomena berkat unggahan di media sosial. Sebelumnya pernah ada, misalnya H. chikmawatiae dan H. pistioides. Menurut para peneliti, peran platform digital semakin meningkat sebagai alat pelengkap eksplorasi lapangan, yang memfasilitasi pengenalan spesies baru.

Mengutip laporan itu, Sumatera dikenal sebagai pusat keanekaragaman tertinggi untuk genus ini. Lebih dari 30 spesies Homalomena dideskripsikan dari pulau tersebut. Temuan tiga spesies baru ini makin memperkuat Sumatera sebagai hotspot kelompok talas-talasan, khususnya Supergrup Chamaecladon yang umumnya berukuran kecil dan banyak ditemukan sebagai tumbuhan lithofit.

Spesies baru tumbuhan kelompok talas-talasan, ditemukan dari hutan Sumatera. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea

Ciri khas

Para peneliti mendapati spesimen H. pachyderma dari sebuah taman pembibitan di Bogor. Tanaman yang tumbuh di bebatuan itu tingginya sekitar 18 cm. Daunnya tebal, dengan permukaan atas berpapila atau memiliki tekstur lembut. Warnanya hijau tua pada daun dewasa, dan hijau limau pada daun muda.

H. pachyderma mirip H. mobula yang sama-sama memiliki daun besar. Namun daun H. pachyderma berbentuk elips tidak simetris, sementara daun H. mobula berbentuk tombak terbalik. Tepi daun H. pachyderma berombak kecil, sementara H. mobula bergerigi tidak teratur.

“Epitet spesifik pachyderma berasal dari kata Yunani pachys berarti tebal dan derma berarti kulit, merujuk pada tekstur helaian daun yang tebal dan berserat kulit,” tulis laporan itu.

Tanaman ini berasal dari Aek Nabobar, Tapanuli Tengah, yang kemudian dibawa ke Bogor dan dibudidayakan di sana.

Inilah tumbuhan spesies baru Homalomena pachyderma. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea

Spesies kedua adalah Homalomena pulopadangensis. Tanaman ini berasal dari alam liar di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Tepatnya di Kawasan Pulo Padang KM 5, Lingga Bayu. Bentuk daunnya menyempit, dengan posisi tegak ke atas. Kerap disandingkan dengan H. anthurioides yang memiliki beberapa karakter morfologi utama yang sama. Bedanya, H. anthurioides posisi daunnya menggantung. Jika tulang daun tersier H. pulopadangensis tidak mencolok, maka H. anthurioides jelas terlihat. Tinggi tanaman hingga 18 cm.

Sementara spesies Homalomena uncinata memiliki ciri khas daun yang memiliki rambut berbentuk kait unik di permukaan atas. Perbedaan ini menjadi dasar dalam penetapan statusnya sebagai spesies baru.

Dibanding dua spesies baru lainnya, ini yang terkecil, dengan tinggi sekitar 11 cm. H. uncinata menunjukkan kemiripan dengan H. hasei yang daunnya bebulu lebat, namun kaitnya cenderung lurus hingga melengkung. Asal tanaman dari budidaya di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Epitet spesifik uncinata merujuk keberadaan rambut berbentuk kait pada permukaan daun yang menjadi ciri khasnya. Dalam bahasa Latin artinya melengkung seperti kail.

Ketiga spesies ini ditemukan melalui tanaman yang dibawa ke pembibitan di Bogor. Di sinilah para peneliti dapat mengamati fase berbunga secara lengkap, sesuatu yang sulit dilakukan di habitat asli mereka di hutan Sumatera yang terpencil dan sulit diakses.

Homalomena pulopadangensis, spesies baru dari hutan Sumatera. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea

“Samurai” Papua

Sebelumnya, sejumlah peneliti menemukan spesies baru Homalomena dari Papua. Jenis ini telah lama dibudidayakan ahli hortikultura lokal dengan julukan Samurai Papua. Ini karena ciri khas daunnya yang memanjang dan sempit mirip samurai.

Temuan telah dipublikasikan di Gardens Bulletin Singapore, berjudul “A new spectacular species of Homalomena (Araceae) from Indonesian New Guinea.” Secara ilmiah, tanaman ini mendapatkan nama Homalomena polyneura.

Mengutip laporan itu, Genus Homalomena menyebar luas meliputi Asia tropis dan subtropis hingga Pasifik Barat Daya. Pusat kekayaan spesiesnya terkonsentrasi di Malesia barat, khususnya di Semenanjung Malaysia (26 spesies), Sumatera (41 spesies), dan Kalimantan (73 spesies).

Makin ke timur, keragaman taksonominya menurun. Di Jawa hanya diwakili delapan spesies, dua di Kepulauan Sunda Kecil (Bali, NTT, NTB), tiga di Filipina, tiga di Sulawesi, dan dua di Kepulauan Maluku. Namun ada pusat keragaman sekunder di timur garis Lydekker. Terdapat 24 taksa dari Papua Nugini, Kepulauan Bismarck, dan Kepulauan Solomon.

Sama dengan tiga spesies baru dari Sumatera, spesimen hidup berasal dari pembibitan di Bogor. Tanaman berasal dari alam liar Nabire, Papua Tengah.

Homalomena uncinata yang juga spesies tumbuhan baru dari hutan Sumatera. Foto: Dok. Muhammad Rifqi Hariri/Telopea

Tanaman yang dibudidayakan memberikan peluang adanya objek penelitian yang tumbuh subur, sehingga deskripsi ilmiah bisa lebih lengkap dan akurat. Namun, di balik peluang ini terdapat tantangan serius. Maraknya perdagangan tanaman hias melalui media sosial berpotensi menyebabkan pengambilan berlebihan terhadap populasi liar yang rentan. Beberapa spesies Homalomena kemungkinan memiliki distribusi sangat terbatas sehingga sensitif terhadap gangguan habitat.

Temuan yang berawal dari unggahan di media sosial bisa memberi makna lebih dalam. Di tengah ancaman deforestasi, konversi lahan, dan perubahan iklim, setiap spesies baru yang terdokumentasi menjadi pengingat betapa berharganya hutan-hutan kita.

Terkini