ANALISD.COM – Peringatan Hari Bumi 2026 di Pacitan ditandai aksi nyata. Sekolah Alam Pacitan menggerakkan penanaman 6.600 bibit mangrove di kawasan pesisir lewat program PARAS Pacitan (Pesisir Asri Restorasi Alam Semesta Pacitan) untuk memperkuat benteng alami pantai dari ancaman abrasi dan dampak perubahan iklim.
Gerakan restorasi pesisir berskala besar itu berlangsung selama empat hari, yakni 24, 25, 27, dan 28 April 2026. Tak sekadar agenda seremonial, kegiatan ini menjelma menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang melibatkan hampir 2.000 peserta dari berbagai unsur.
Mulai dari jajaran militer, kepolisian, organisasi perangkat daerah, komunitas lingkungan, pelajar, hingga seniman turun langsung ke kawasan pesisir untuk menanam ribuan bibit mangrove secara bertahap.
Peresmian kegiatan dilakukan Ketua TP PKK Kabupaten Pacitan, Efi Suraningsih, melalui penyerahan simbolis bibit mangrove kepada siswa Sekolah Alam Pacitan. Momen itu turut disaksikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Kepala KPPN, Ketua Pokmas Watu Mejo, dan Camat Pacitan.
Suasana di lapangan berlangsung dinamis. Personel Yonif TP 934 SBY bersama jajaran Mako Lanal, kepolisian, dan sejumlah instansi tampak berjibaku di area berlumpur memastikan pola tanam dilakukan sesuai titik restorasi yang telah ditetapkan.
Kepala Sekolah Alam Pacitan, Bangun Naruttama, menegaskan penanaman ribuan mangrove tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dunia pendidikan dalam merawat lingkungan sekaligus menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
“Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh tamu undangan yang telah berpartisipasi dalam aksi menanam 6.600 bibit mangrove. Kami ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pemulihan alam adalah investasi jangka panjang. Melalui sinergi dengan hampir 2.000 peserta ini, kita sedang mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga benteng pesisir kita. Mari kita kencangkan sabuk hijau pesisir Pantai Pacitan. Salam Bumi, pasti lestari,” ujar Bangun Naruttama, Jumat (24/4/2026).
Advertisement
Menurut dia, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori tentang lingkungan di ruang kelas. Aksi konkret di lapangan menjadi cara paling efektif untuk menanamkan kepedulian terhadap bumi kepada generasi muda.
Penanggung jawab pelaksana, Septa Madyaningwulandari, menyebut keberhasilan PARAS PACITAN tak lepas dari dukungan kelompok masyarakat pesisir yang selama ini aktif menjaga kawasan mangrove.
“Kami bersinergi dengan Pokmas Jangkar Segoro Kidul dan Pokmas Anyelir Watu Mejo yang turut membantu kelancaran kegiatan ini. Dengan ribuan peserta yang terlibat, kami optimistis PARAS PACITAN yang diselenggarakan Sekolah Alam Pacitan adalah aksi nyata kami dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kami ingin program ini menjadi pemantik bagi gerakan hijau yang lebih luas, terutama dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan perubahan iklim dunia yang semakin kompleks,” ungkapnya.
Penanaman mangrove dalam jumlah besar ini diproyeksikan menjadi langkah awal restorasi berkelanjutan di pesisir Pacitan. Sebab, keberhasilan rehabilitasi kawasan tak berhenti pada penanaman, melainkan juga membutuhkan perawatan serta pengawasan bersama.
Sekolah Alam Pacitan berharap kawasan pesisir setempat ke depan tak hanya tampak hijau secara visual, tetapi juga semakin tangguh menghadapi abrasi, gelombang ekstrem, dan ancaman perubahan iklim global yang kian nyata.
PARAS Pacitan pun menjadi penanda bahwa kepedulian terhadap bumi bisa dimulai dari langkah sederhana menanam hari ini untuk masa depan yang lebih lestari. (*)