Hari Bumi 2026, Empathic Talk Angkat Relasi Perempuan dan Krisis Iklim

Ahad, 26 April 2026 | 16:24:23 WIB

ANALISD.COM— Dalam momentum peringatan Hari Bumi, Empathic.id menggelar Empathic Talk Vol. II dengan tema “Ecofeminism: Perempuan di Tengah Krisis Iklim” secara daring, Minggu (26/4/2026).

Diskusi ini mengangkat keterkaitan antara krisis iklim dan ketimpangan gender, serta pentingnya menghadirkan perspektif perempuan dalam upaya penyelesaian isu lingkungan.

Founder Empathic.id, A. Syamrullah Makkuaseng, menegaskan bahwa krisis iklim tidak hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial, khususnya bagi kelompok rentan.

“Krisis iklim menuntut pendekatan yang inklusif, terutama dalam melindungi kelompok yang paling terdampak, termasuk perempuan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Liliana Muallim, yang menilai forum ini sebagai ruang untuk membangun empati sekaligus mendorong kesadaran kolektif.

“Kami berharap diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi mampu mendorong aksi nyata dalam merespons isu sosial dan lingkungan,” katanya.

Dalam pemaparannya, narasumber Nurul Habaib Al Mukarramah menjelaskan bahwa perempuan dan alam kerap mengalami pola ketidakadilan yang serupa dalam sistem sosial yang tidak berpihak.

“Kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan perempuan, termasuk meningkatkan kerentanan sosial akibat tekanan ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Mashita Dewi Tidore menyoroti bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak krisis iklim, namun masih minim keterlibatan dalam proses pengambilan kebijakan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan saat ini belum sepenuhnya responsif gender.

Diskusi yang dipandu oleh Rery Audry ini juga menekankan pentingnya keadilan yang mencakup tiga aspek utama, yakni perempuan, masyarakat rentan, dan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, Empathic.id mendorong peningkatan kesadaran publik serta partisipasi perempuan dalam aksi iklim. Momentum Hari Bumi diharapkan tidak hanya menjadi simbol peringatan, tetapi juga penggerak kolaborasi menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Terkini