ANALISD.COM - PEKANBARU — Perusahaan Pupuk Organik Asal Xiamen, Cina, Mata Eco Co., Ltd Company, tertarik mendorong pertanian berkelanjutan berbasis teknologi ramah lingkungan di Indonesia. Rencana itu disampaikan perwakilan perusahaan, Rocky dan Leslie, saat berkunjung ke kantor perwakilan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) pada Februari lalu.
Rocky menjelaskan bahwa teknologi yang mereka bawa telah dikembangkan melalui proses panjang dan menggunakan pendekatan berbasis ekologi. Produk yang ditawarkan merupakan hasil pengolahan limbah laut yang kemudian diformulasikan menjadi pembenah tanah untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian.
“Kami datang dari Xiamen ke Indonesia, ke Pekanbaru, dengan tujuan untuk berdiskusi secara langsung dengan asosiasi petani sawit dan memahami kondisi lapangan agar kami dapat bekerja sama dalam mengembangkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri kelapa sawit di sini,” kata Rocky, dikutip dari podcast di kanal YouTube di sawitsetara.co.
Leslie kemudian menjelaskan sejarah dan fokus perusahaan secara lebih rinci. Ia menyampaikan, “Perusahaan kami berdiri pada tahun 2011 dan selama lebih dari 15 tahun kami fokus pada pengembangan teknologi ekologi yang mengolah limbah dari laut, khususnya cangkang tiram, menjadi produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tanah dan mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menjelaskan penggunaan teknologi dalam proses produksi. Dalam pernyataan panjangnya ia mengatakan, “Kami menggunakan teknologi yang kami kembangkan melalui kerja sama dan adopsi dari teknologi yang lebih maju, termasuk dari Jepang, untuk memastikan bahwa produk kami memiliki kualitas tinggi dan mampu memberikan dampak nyata dalam memperbaiki kondisi tanah pertanian.”
Diskusi kemudian mengarah pada perbandingan produktivitas sawit antar negara. Berdasarkan pengalaman perusahaan, kata Leslie, di beberapa wilayah Tiongkok produktivitas pertanian dapat mencapai sekitar 15 ton per hektare, sementara di Indonesia masih berada di kisaran 10 hingga 12 ton per hektare, sehingga perusahaan melihat adanya peluang besar untuk membantu meningkatkan angka tersebut melalui perbaikan kualitas tanah dan penerapan teknologi pembenah tanah yang lebih efektif.
“Kami siap bekerja sama dengan APKASINDO untuk melakukan uji coba di lapangan, mengumpulkan data produktivitas secara sistematis, serta mengevaluasi bagaimana teknologi kami dapat membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas tanah di berbagai kondisi perkebunan sawit di Indonesia,” katanya.
