ANALISD.COM - Kedelai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Produk ini digunakan mulai dari pembuatan minyak goreng, makanan nabati hingga produk olahan lainnya dan termasuk juga pakan ternak. Jadi, ketika tanaman kedelai mengalami perubahan, dampaknya tidak akan berhenti di lingkungan pertanian saja. Melansir Earth, Rabu (17/6/2026) penelitian baru menunjukkan bahwa kondisi iklim di masa depan dapat memengaruhi pertumbuhan kedelai.
Menurut studi jumlah biji kedelai bisa menjadi lebih banyak, tetapi nutrisinya justru melemah. Di bawah tekanan gabungan dari meningkatnya gas karbon dioksida, suhu udara yang lebih panas, dan bencana kekeringan, tanaman kedelai memang bisa menghasilkan biji 50 persen lebih banyak, namun biji-biji tersebut kehilangan sebagian zat gizi penting yang membuatnya sangat berharga.
Biji lebih banyak, nilai gizi lebih sedikit Marco Buckeridge dan timnya dari Institut Ilmu Hayati Universitas São Paulo meneliti bagaimana biji kedelai merespons perubahan iklim.
Penelitian mereka sangat penting karena kedelai sangat dihargai karena kandungan proteinnya. Jika kandungan protein itu turun, para petani dan produsen pakan ternak harus mengubah cara mereka dalam menilai keberhasilan panen.
Studi tersebut menemukan adanya penurunan kandungan pati sebesar 20 persen dan penurunan protein sebesar 6 persen ketika tanaman kedelai menghadapi tiga tekanan iklim secara bersamaan yakni karbon dioksida tinggi, panas, dan kekeringan. Di saat yang sama, kandungan asam amino justru melonjak naik sebesar 175 persen.
“Lonjakan kandungan asam amino itu benar-benar di luar dugaan kami. Kami bahkan belum tahu apa dampaknya jika makanan itu dimakan oleh hewan ternak,” kata Buckeridge. “Kami harus mencari tahu bagaimana gabungan tiga dampak iklim ini memengaruhi pembentukan protein, karena protein sangatlah penting bagi kedelai yang dijadikan pakan ternak," terangnya.
“Kami sudah melihat sendiri bahwa kandungan protein berkurang drastis dalam skenario perubahan iklim yang ekstrem. Ditambah lagi, biji kedelai kehilangan kandungan patinya, yang berarti energinya juga berkurang,” katanya lagi.
Pencemaran Karbon dioksida bisa bertindak seperti bahan bakar bagi tumbuhan. Ketika jumlahnya di udara meningkat, banyak tanaman tumbuh lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak biji. Dalam penelitian ini, peningkatan karbon dioksida saja bisa menaikkan hasil panen kedelai hingga 142 persen. Namun, perubahan iklim tidak datang satu per satu.
Suhu panas dan kekeringan juga datang bersamaan. Suhu tinggi saja bisa memangkas hasil panen hingga 91 persen, sementara kekeringan memangkasnya hingga 60 persen.
Langkah selanjutnya untuk tanaman pangan Kini para peneliti berusaha untuk menemukan gen di dalam tanaman yang mengatur respons stres terhadap perubahan iklim. Hal ini bisa membantu para ahli pemuliaan tanaman untuk menciptakan jenis kedelai baru yang kadar proteinnya tetap stabil meskipun ditanam di bawah kondisi iklim yang tidak stabil.
“Dengan pengetahuan tersebut, kami akan mampu merancang ulang tanaman ini agar tetap menghasilkan jumlah protein yang sama tanpa harus kehilangan banyak kandungan pati,” kata Buckeridge.
“Pada akhirnya, kita akan bisa mempersiapkan biji kedelai agar dapat beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan iklim,” terangnya. Lebih lanjut, tanaman pangan lainnya juga kemungkinan besar akan memberikan reaksi yang rumit.
Tim peneliti ini sebelumnya sudah mempelajari tanaman tebu di bawah dua tekanan iklim, dan sekarang mereka ingin memasukkan faktor suhu panas ke dalam model perkiraan komputer selanjutnya.
“Sangat mungkin bahwa jenis tanaman lain akan menunjukkan perilaku yang serupa. Kami sudah melakukan eksperimen dampak ganda pada tebu. Sekarang, kami perlu menguji faktor suhu dan menjalankan simulasinya menggunakan bantuan AI,” tambah Buckeridge.