Kubu Raya Fokus Kembangkan Hortikultura dan Jagung untuk Optimalkan Lahan Gambut

Selasa, 05 Mei 2026 | 23:00:00 WIB

ANALISD.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kubu Raya mulai menyesuaikan pola pengembangan sektor pertanian berdasarkan karakteristik lahan di setiap wilayah. Lahan gambut yang selama ini dinilai kurang produktif untuk tanaman padi, kini diarahkan pada komoditas hortikultura dan jagung yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya, Agus Siswandi, menyatakan bahwa lahan gambut tetap memiliki potensi besar jika dikelola dengan jenis tanaman yang tepat. Beberapa wilayah di Kubu Raya telah membuktikan keberhasilan transisi komoditas ini.

“Produktivitas padi di lahan gambut memang tidak begitu baik. Namun, ada jenis tanaman lain yang sangat cocok dikembangkan di sana,” ujar Agus kepada Pontianak Post, Senin (4/5).

Agus mencontohkan Desa Terentang yang sukses mengembangkan budi daya jahe dengan hasil produksi tinggi. Selain itu, petani di Desa Rasau Jaya Umum kini mulai beralih ke tanaman hortikultura seperti bunga kol, kacang panjang, timun, dan aneka sayur lainnya.

Menurutnya, pemilihan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus pendapatan masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu memaksimalkan lahan yang sebelumnya dianggap kurang potensial.

Selain sayur-mayur, tanaman jagung, baik jenis manis maupun jagung pipil, dinilai sangat potensial di kawasan gambut. Salah satu proyek percontohan yang berhasil berada di kawasan Sekunder C, Kecamatan Rasau Jaya.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, lahan seluas 800 meter persegi yang ditanami 3,5 kilogram benih jagung mampu menghasilkan sekitar 350 kilogram dalam satu kali panen. Durasi tanamnya pun relatif singkat, yakni berkisar tiga hingga empat bulan.

“Jagung pipil memiliki keunggulan karena bisa ditanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun. Ini sangat menjanjikan untuk mendukung penguatan ekonomi petani di kawasan gambut,” jelas Agus.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti bahwa lahan gambut dapat menjadi lahan produktif melalui pendekatan yang tepat dan kerja sama lintas sektor.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya, Agus Siswandi mengatakan pihaknya berupaya mulai menyesuaikan pola pengembangan sektor pertanian di Kubu Raya berdasarkan karakteristik lahan di masing-masing wilayah. Kawasan gambut yang selama ini dinilai kurang optimal untuk tanaman padi kini diarahkan untuk pengembangan komoditas lain yang lebih sesuai dan bernilai ekonomi.

Kata Agus, lahan gambut tetap memiliki potensi besar apabila dikelola dengan komoditas yang tepat. Menurutnya, sejumlah wilayah di Kubu Raya telah membuktikan keberhasilan pengembangan tanaman nonpadi di kawasan gambut.

“Produktivitas padi di lahan gambut memang tidak begitu baik. Tetapi ada jenis tanaman yang cocok dikembangkan di gambut,” kata Agus, kepada Pontianak Post, Senin (4/5) di Sungai Raya.

Dia mencontohkan Desa Terentang yang berhasil mengembangkan komoditas jahe dengan hasil produksi cukup tinggi. Selain itu, masyarakat di Desa Rasau Jaya Umum juga mulai mengembangkan berbagai tanaman hortikultura seperti bunga kol, kacang panjang, timun, hingga aneka sayur mayur.

Menurut Agus, pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus pendapatan masyarakat.

Selain hortikultura, tanaman jagung juga dinilai sangat potensial dikembangkan di kawasan gambut, baik jagung manis maupun jagung pipil. Pengembangan jagung bahkan mulai menunjukkan hasil positif di sejumlah wilayah.

Salah satu contoh keberhasilan pengembangan jagung pipil terdapat di kawasan Sekunder C, Kecamatan Rasau Jaya. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah bersama sejumlah pihak terkait lainnya.

Di lahan seluas sekitar 800 meter persegi, bantuan benih jagung sebanyak 3,5 kilogram mampu menghasilkan produksi hingga sekitar 350 kilogram dalam satu kali panen.

“Itu hanya ditanam di lahan 800 meter persegi dengan benih 3,5 kilogram, hasilnya sekitar 350 kilogram. Waktu panennya hanya tiga sampai empat bulan,” ujarnya.

Agus menjelaskan, tanaman jagung pipil juga memiliki keunggulan karena dapat ditanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun. Kondisi itu membuat komoditas tersebut cukup menjanjikan untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya petani di kawasan gambut.

“Keberhasilan pengembangan jagung tersebut menjadi bukti bahwa lahan gambut tetap memiliki nilai produktif jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dan didukung kolaborasi berbagai pihak,” pungkasnya. (ash)

Terkini